0

Awesome Start – Retret Pacet 2015

Empat bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Agustus 2015, aku bersama teman-teman sekelas dan satu kelas delapan yang lain pergi ke Pacet, Mojokerto untuk refreshing sekaligus retret. Retretnya sendiri diadakan oleh sekolah, sehingga kami tidak perlu membayar apapun. Mantap!

By the way, buat yang nggak tahu, retret itu semacam pendekatan diri dengan Tuhan. Kegiatannya dilaksanakan di luar kota supaya bisa lebih fokus.

Karena dalam satu angkatan kelas delapan terdapat kurang lebih 400 murid, maka retret dibagi dalam lima gelombang. Alasan utamanya yaitu penginapannya nggak muat menampung manusia sebanyak itu. Beruntung sekaligus nggak-beruntungnya, aku mendapat gelombang pertama. 

Hari H-1

Setelah bel pulang sekolah di bunyikan, kami diberikan pengarahan retret di ruang media (baca: tidak diperbolehkan pulang selama 15 menit dalam suatu ruangan tertutup). Selain memberi tahu apa yang harus dibawa, guruku juga berpesan bahwa setiap murid harus memiliki name tag (bahasa keren dari keplek).

Dan seperti biasa, nggak boleh membawa alat elektronik dalam bentuk apapun. YAY! Bener juga sih harusnya. Kan memang tujuan awalnya supaya jauh dari hal duniawi sejenak.

Tapi, aku tetap membawa HP, huehuehue (ketawa setan). HP-nya sih cuma berguna buat SMS untuk mengabari orang tua. Karena hanya untuk fungsi komunikasi, jadi bawanya HP yang kameranya kurang bagus. Maka dari itulah, aku tidak bisa mengambil gambar apapun di sana.

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung membereskan tasku, tetapi bermain terlebih dahulu. Setelah cukup puas bermain muncul rasa takut ada barang yang ketinggalan, aku mulai membereskannya. Tak lama setelah mencari dan mengemas barang-barang yang diperlukan, aku lanjut bermain tanpa merasa bersalah.

Jam setengah lima, temanku, yang merupakan ketua kelas, menginformasikan di grup BBM bahwa akan ada empat kelompok per kelas. Dan aku masuk dalam kelompok empat (nggak penting juga sih ditulis).

Teringat pesan guru tadi siang, aku langsung mendesain name tag-ku. Tapi bodohnya, name tag itu nggak langsung aku print karena aku lebih memilih untuk istirahat.

Name tag-nya kurang lebih seperti ini:

nametag

Yak. Pendek, padat dan jelas.

Beberapa saat setelah istirahat, aku diajak makan malam. Dalam perjalanan, aku mengecek HP-ku yang tidak aku nyalakan sejak istirahat tadi.

Dan BOOM! Bukan, wallpaper HP-ku nggak berubah, pulsaku juga nggak bertambah. Tapi notifikasi grup BBM kelasku meledak!

Ada yang nggak terima satu kelompok dengan orang yang lain. Ada juga yang saling menggusur agar bisa satu kelompok dengan temannya. Malah ada juga yang saking nggak terimanya, sampai nggak ikut retret. Oke, nggak sampai segitunya juga.

Tetapi yang paling parah: aku terombang-ambing dari kelompok empat, terbawa arus ke kelompok tiga, lalu berenang ke kelompok empat lagi, dan pada akhirnya terdampar di kelompok dua. Great!

Sesampainya di rumah, sekitar jam sembilan malam, aku langsung membuka laptop dan mengganti angka “4” menjadi “2”.

Dengan cepat aku membawa laptopku ke depan printer, menarik kabel, menancapkannya pada laptop, mengambil kertas karton. Eh, kok malah jadi kayak tutorial nge-print sih. Biarin dah.

Lanjut! Aku masukkan kertas tersebut ke dalam tempatnya dan menekan tombol start…      *printer tidak menyala*      Aku tekan tombol itu sekali lagi…      *masih tidak menyala*      Sekali lagi…      *masih tidak ada tanda kehidupan printer*

Hal pertama yang terlintas di kepalaku   : Hmm…

Hal kedua yang terlintas di kepalaku       : *sensor*

Rasanya ingin membanting printer tersebut. Namun akhirnya aku urungkan. Saat itu juga aku baru sadar kalau printer itu lumayan berat. Juga lebih susah membersihkan tinta-tinta yang berceceran daripada pergi tanpa name tag ini. Sesudah itu, aku kembali ke kamar dengan hanya membawa laptop dan langsung tidur.

WHAT AN AWESOME START!

Cerita selanjutnya: belum dibuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *