0

Baca Dulu, Dong!

'Baca dulu dan cari informasi sebanyak-banyaknya! Kalau ada pertanyaan atau ketidaksetujuan, baru silakan berkomentar!'

Ungkapan di atas tidak jarang terdengar dari beberapa guru di sekolahku, apalagi setelah diterapkannya “kurtilas“. Tahu kan, singkatan dari kurikulum tidak jelas, eh, maksudnya Kurikulum 2013.

Aku sendiri sepenuhnya setuju dengan pernyataan di atas. Sekarang ini, di saat segala sesuatu sedang berkembang dengan sangat pesat, semakin mustahil bagi manusia untuk menjadi makhluk yang pasif. Yang selalu mengandalkan orang lain dan ingin orang lain yang mengerjakannya untuk kita.

Maka, sudah menjadi hal yang mustahil pula apabila kita mengejar pengetahuan dan keterampilan hanya melalui pelajaran yang kita terima dari sekolah saja. Apalagi dibarengi fakta bahwa sekolah mengajarkan sesuatu yang relatif sama dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi kita selain menggali informasi lainnya sendiri.

Salah satu metode yang masih dianggap terbaik ialah dengan membaca. Khususnya membaca yang dilakukan tidak hanya untuk mengerti, tetapi juga supaya semakin paham.

Masalahnya, masih banyak orang yang tidak mau baca dulu dan memilih untuk langsung memberikan komentar.

Memang apa masalahnya bila pada kenyataannya, masih ada banyak orang yang seperti itu di dunia ini? Yang jelas, kaum tidak mau baca dulu ini akan merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Kok aku bisa tahu? Karena aku sering dipertemukan dengan mereka. Kaum yang nggak mau baca dulu, meski dalam hal sederhana sekalipun.

Pernah suatu kali kejadian ketika aku hendak menonton sebuah film di bioskop. Dan bukan, kali ini aku nggak nonton midnight lagi, karena masih terbayang-bayang kejadian saat itu.

Sepuluh menit sebelum film tayang, aku sudah duduk dalam teater, sambil sesekali mengunyah popcorn karamel yang terasa terlalu manis. Kebetulan aku menempati barisan A di bagian tengah. Sedikit terlalu tinggi tapi nggak jadi masalah, lah. 

Saat iklan sedang ditayangkan di layar, dua orang datang dan berhenti tepat di ujung barisan kursi A, sambil matanya mencari-cari kursi kosong di barisan itu. Ketika itu, masih tersisa satu kursi yang belum dihuni di barisan A. ‘Mungkin bersebelahan’, pikirku awalnya.

Tapi, setelah iklan selesai ditayangkan pun, keduanya masih berdiam di posisi semula. Tak lama, salah satu dari mereka yang terlihat lebih berani mulai melangkah mendekatiku, dan dengan keyakinan tinggi, ia bertanya dengan lantang, ‘Maaf, ini bukannya kursi saya? Kursi sembilan dan sepuluh?’, sambil menunjukkan tiketnya.

‘Oh, sebentar ya!’, balasku, kemudian berusaha merogoh tiket yang sudah aku masukkan entah dalam saku yang mana, karena berpikir bahwa tiket itu sudah tidak akan ada gunanya lagi setelah berada dalam ruang teater. Plus, aku juga bukan tipe orang yang suka mempublikasikan foto atau boomerang tiket bioskop melalui Instagram Story.

Setelah berhasil menemukannya, aku langsung memperlihatkan tiket yang telah dirobek dan dicoret oleh mbak-mbak petugas bioskop itu. Orang ini menyambut dengan anggukan kepala seolah ia baru saja menemukan suatu hal yang mengejutkan. Sebelum aku berkata sepatah katapun, ia menyuarakan, ‘Oooooooh’, lalu dilanjutkan dengan, ‘Maaf, saya ternyata B’.

Tentu saja ‘B’ yang dimaksudnya ialah barisan kursi B yang seharusnya ia tempati, bukan singkatan dari ‘bego’. Perjumpaan kami pun diakhiri dengan sama-sama tertawa canggung. Popcorn karamel yang tersisa seketika terasa lebih asin daripada keringat unta. Eh bentar-bentar, keringat unta rasanya asin nggak, ya? Hmm. =P

Terlepas dari pembahasan mengenai bagaimana rasa keringat unta, pikirkan bagaimana kejadian barusan bisa terjadi. Bukankah semestinya mereka sendiri yang memilih kursi B9 dan B10 saat membeli tiket? Ketika masuk pintu bioskop pun ada petugas bioskop yang kembali mengingatkan nomor kursinya. Di lorong tangga pun seharusnya masih ada kesempatan buatnya untuk membaca lagi, bukan? Toh, membaca satu huruf hanya butuh waktu kurang dari tiga detik.

Kejadian yang satu lagi ini lebih parah, tapi mungkin lebih sering kita jumpai sehari-hari. Ternyata masih ada saja orang di berbagai media sosial yang nggak mau membaca dan mendalami dengan cermat suatu masalah terlebih dahulu, dan memutuskan untuk langsung urun komentar sok tahu. Dari satu komentar kesalahpahaman orang itu, bisa diartikan hal yang lain lagi oleh orang lain, dan seterusnya, hingga merembet menjadi debat berkelanjutan. 

Biasanya juga, seolah terbukakan forum diskusi dan debat terbuka, muncul tiga tipe orang lagi yang masih merupakan subspesies dari orang yang nggak mau baca dulu.

Pertama, orang yang ikut berdebat dengan modal ‘kata si A, …’ tanpa mencari tahu dan membaca kebenarannya sendiri. Kedua, orang yang bersikeras bahwa dirinya benar. Apabila terdesak, mereka akan mencari kesalahan orang lain sebagai tindakan defensif sekaligus ofensif.

Ketiga, orang yang merasa bodo amat, tapi nge-share postingan-postingan itu di group chat-nya. Orang inilah yang jadi alasan memori handphone kita penuh dengan gambar dan tautan postingan. Belum lagi kalau dalam grup itu ada yang menanggapi dan melanjutkan debat di situ. Beh, bikin suasana grup nggak nyaman aja. Mau keluar dari grup juga takut kelewatan informasi penting. Kita bingung sendiri kan jadinya.

Padahal membaca satu postingan itu kan rata-rata nggak butuh waktu seharian penuh. Nggak ada uang yang harus kita keluarkan juga kan untuk membaca, kecuali untuk kuota.

Bahkan, bisa jadi sejatinya postingan itu informatif, tapi karena kemalasan pembacanya, muncul kesalahpahaman, tersulut emosinya, dan jadi berujung dendam.

Apa mau relasi kita dengan orang lain hancur, cuma gara-gara keegoisan untuk tidak mau membaca dulu sebelum berkomentar?

Intinya, membaca menjadi suatu hal yang penting dilakukan sebelum berkomentar. Maka jadikanlah kebiasaan, niscaya hidup Anda akan bahagia. Salam super. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *