0

Mengenai Soal Esai Ujian Nasional 2018

Tak lama ini, santer dibicarakan rencana perubahan tipe soal menjadi soal esai di Ujian Nasional 2018 mendatang. Dari yang sebelum-sebelumnya hanya pilihan ganda, rencananya tahun depan peserta akan menjumpai beberapa soal esai, meskipun persentase bobot nilai pilihan ganda masih akan tetap mendominasi. Kemungkinan ya, karena sampai saat ini*, masih belum dirilis secara jelas mekanisme pelaksanaannya.

*Postingan ini ditulis di awal bulan Juli 2017.

Tujuan diterapkannya rencana ini yaitu untuk mengukur level kognisi siswa lebih dalam. Benar sih, karena dengan cara ini, peserta diharuskan untuk lebih menguasai konsepnya dan teliti dalam menjawab.

Tidak bisa ditolak, setelah beredar, berita ini langsung banyak menuai pro dan kontra, terutama dari kalangan pelajar yang masih harus menjalani Ujian Nasional.

Sebelum mekanismenya dipublikasikan secara jelas, mari kita berimajinasi terlebih dahulu hal terbaik dan terburuk apa saja yang akan terjadi bila Ujian Nasional benar-benar ada soal esainya.

Menurutku pribadi, hanya ada beberapa masalah yang akan muncul, yang seharusnya telah dipikirkan jalan keluarnya. Oh iya, di sini aku mengartikan soal ‘esai’ sebagai esai panjang, bukan isian singkat.¬†

Salah satu problemnya ialah waktu pemeriksaan jawaban. Butuh waktu berapa lama untuk memeriksa pekerjaan ratusan ribu hingga jutaan peserta ujian dalam bentuk tulisan. Apalagi jika dipertemukan dengan jawaban hasil mengarang indah. Belum lagi harus ada waktu untuk mengumpulkan data dan menggabungkan nilai pilihan ganda dengan nilai esai.

Ditambah lagi waktu jika pemeriksaan dilakukan lebih dari satu juri agar tidak terjadi kecurangan. Maka akan bertambah-tambah lamanya. Tapi memang seharusnya seperti itu, karena satu fakta, apabila dilihat dari sudut pandang yang berbeda, akan menghasilkan makna yang berbeda juga. Ehem.

Hal kedua ialah masalah medianya. Jika jawaban esai itu ditulis di kertas, seperti pada Ujian Sekolah  tahun ini, muncul masalah baru, yaitu ada kemungkinan tulisan tidak terbaca karena lembar jawaban rusak atau kelalaian peserta. Nggak mungkin juga peserta itu disuruh mengerjakan ulang, kan.

Selain itu, menggunakan kertas akan sedikit menodai tujuan diadakannya Ujian Berbasis Komputer (UBK), yakni untuk mengurangi biaya. Biaya kertas dan distribusi akan hadir kembali.

Apabila soal ‘esai’ yang dimaksud ialah isian singkat, maka sangat mungkin dilakukan dengan media komputer. Tapi, bagaimana jika ada kesalahan ketik? Atau, apakah kesalahan ketik bisa dimaklumi? Atau mungkin juga, apakah jawaban isian singkat akan diperiksa manual?

Menurutku, kebijakan ini sangat baik tujuannya, meskipun sebagai peserta akan lebih menyulitkan. Mungkin soal ‘esai’ yang dimaksud ialah soal isian singkat. Tidak sesukar esai, namun juga tidak semudah pilihan ganda. Yang terpenting, mengurangi kesempatan cap-cip-cup atau menghitung kancing dalam memilih jawaban.

Atau bisa jadi, setiap pertanyaan harus hanya memiliki satu jawaban mutlak saja, seperti dalam pelajaran Matematika atau ilmu pasti lainnya. Boleh dikerjakan dengan metode apapun, tetapi harus dengan cara yang tepat dan menghasilkan jawaban yang benar.

Dan yang terpenting, setiap jawaban harus diakui kebenarannya oleh semua sekolah di seluruh Indonesia, bukan hanya sebagian, atau bahkan segelintir saja.

Oke, hanya sebatas itu pendapatku mengenai kebijakan soal esai Ujian Nasional 2018, terutama karena masih dalam tahap rencana, dan belum seratus persen akan diterapkan tahun depan. Perlu diingat, semua yang aku utarakan di atas hanyalah murni pandangan dan opiniku dari perspektif pelajar, karena tentu saja pemerintah lebih tahu mana yang lebih baik untuk pendidikan di Indonesia.

Anyways, sampai pemberitahuan lebih lanjut dari pemerintah, kita hanya bisa menunggu dan bersiap diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *