0

Tantangan Masa Depan – Dikpus ITB 2021

Misiii… Pakeeet…

Ashiap!

Seruan tersebut tak pernah absen terdengar dari rumah saya tiap hari. Yap, seruan khas para kurir yang tak bosan membawa kebahagiaan kepada para penerima paketnya. Namun, yang sering kali dilupakan (iya, dilupakan, bukan terlupa) ialah sampah plastik yang kian menumpuk. Pada masa pandemi saat ini, kita malah berlindung pada dalih bahwa belanja online lebih baik daripada belanja di toko untuk menghindari kerumunan, demi menekan angka penyebaran virus Covid-19.

Padahal, menurut data LIPI, dikutip dari lipi.go.id, 96% persen paket dibungkus dengan plastik yang tebal ditambah dengan bubble wrap. Belum lagi balutan isolasi plastik sebagai perlindungan tambahan selama pengiriman. Sayangnya, menurut saya, masalah ini tidak akan terselesaikan kendatipun pandemi telah berakhir nanti. Pasalnya, kebiasaan belanja online ini telah menjadi gaya hidup, atau bahkan budaya baru masyarakat Indonesia.

Saya rasa kita semua sudah tahu bila plastik sulit untuk terurai sehingga berdampak buruk bagi lingkungan, yang berefek pada penurunan kualitas kehidupan di muka bumi. Bencana alam, pencemaran air, dan kepunahan satwa hanya merupakan salah tiga contohnya.

Oleh karena itu, saya, sebagai mahasiswa, akan mengambil peran dalam menanggapi isu ini. Seperti biasa, hal tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, misalnya dengan menekan keinginan berbelanja online untuk barang yang sifatnya rekreasional atau bukan kebutuhan pokok. Selain itu, apabila kita memiliki toko online sendiri, sudah seharusnya kita menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti kardus dan isolasi yang dapat didaur ulang.

Sumber:
http://lipi.go.id/berita/single/Peningkatan-Sampah-Plastik-dari-Belanja-Online-dan-Delivery-Selama-PSBB/22037

[Tugas Dikpus Day 4]
Damianus Clairvoyance
16520398
Kelompok 37

Leave a Reply

Your email address will not be published.