0

Noda dalam Ujian Berbasis Komputer

Akhirnya secara sah semua ujian di SMP selesai. Mulai dari ujian penentuan nilai yang dibagi menjadi Ujian Berbasis Komputer (Ujian Sekolah dan Ujian Nasional) serta Tidak Berbasis Komputer (Ujian Akhir Semester, Ujian Praktik, dan semacamnya) yang perlu dipelajari, hingga ujian hidup selama SMP.

Tetapi kali ini aku akan membahas ujian akhir sekolah, khususnya yang menggunakan komputer dalam pelaksanaannya, atau disebut juga CBT (Computer-Based-Test). Di antara berbagai tujuan baik yang diutarakan pemerintah, tentunya tidak akan luput dari kesalahan. Kesalahan itu ada yang bisa dimaklumi, ada juga yang memicu emosi. 

Berikut aku rangkum beberapa hal yang paling bikin kesal menurut pandanganku dalam pelaksanaan ujian dengan buntut nama “Berbasis Komputer”:

(hal di bawah ini terjadi di sekolahku sendiri dan berdasarkan cerita pengawas)

  1. Server Eror

Ini terjadi di luar kendali. Karena keberhasilan ujian ini sangat dipengaruhi oleh server dan koneksi jaringan, maka kesalahan sedikit saja akan berujung panjang. Kejadian ini terjadi di sekolahku dua kali. Yang pertama sekaligus paling parah terjadi di sesi pertama hari kedua Ujian Sekolah Berbasis Komputer.

Semua peserta datang tepat waktu sesuai ketentuan, tiga puluh menit sebelum ujian dimulai, bersiap untuk mengerjakan ujian Matematika. Namun sayangnya, server berkata lain. Pelaksanaan sesi pertama ujian se-Surabaya hari itu harus mundur dua setengah jam dari jadwal. Dua Setengah Jam! Masih mending kalau sebelum berangkat sudah sarapan. Karena bukan hanya kurang minum yang menurunkan konsentrasi dan fokus, tapi juga kurang makan. Kalau itu kayaknya semua orang juga tahu, deh.

Masalah tidak berhenti sampai di situ, kemunduran ini juga berdampak pada sesi lainnya. Karena tidak mungkin tidak ada jeda antarsesi, maka sesi kedua diharuskan mundur dua jam, dan sesi ketiga mundur satu jam. Cobaan tambahan untuk pengikut sesi ketiga.

Untungnya nggak ada kendala server lagi di sisa Ujian Sekolah Berbasis Komputer dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional, tetapi terjadi lagi di hari ketiga Ujian Nasional Berbasis Komputer. Pada sesi kedua, ada sedikit masalah pada server yang lagi-lagi membuat kemunduran, namun hanya beberapa menit saja.

2. Listrik mati… atau padam? Yah, itulah maksudku.

Selain server, salah satu faktor keberhasilan ujian ini diperngaruhi listrik. Jelas, semua orang tahu bahwa untuk saat ini, komputer tanpa listrik nggak bisa menyala. Bahkan, kalau mau ditunggu sampai Cristiano Ronaldo mencetak satu juta gol pun juga masih nggak bakal menyala komputernya. 

Dari cerita pengawas, entah fakta atau hoax, ada sekolah yang terpaksa menunggu beberapa menit karena listrik padam. Belum selesai di situ, untuk ujian sekolah, setelah listriknya nyala, mereka harus melanjutkan dengan sisa waktu sesuai jadwal.

Jadi, kalau ujiannya dimulai jam 09.00, terus tiba-tiba listrik mati jam 09.01 dan baru hidup kembali jam 10.59, maka total waktu pengerjaannya hanyalah dua menit saja. Kelar deh hidup lo. Di saat seperti itu, semua cuma bisa berharap hasil cap-cip-cup sesuai dengan kunci jawabannya.

Bayangin, cuma dua menit buat kerjain empat puluh sampai lima puluh soal. Kalau dipakai buat izin ke toilet balik-balik juga udah bubar tuh ujian.

Tapi katanya, itu cuma berlaku di ujian sekolah, bukan untuk ujian nasional.

Untungnya dengan berbaik hati, sekolah menyewa satu buah genset. Walaupun pada akhirnya nggak terpakai juga, tapi aku beri tepuk tangan dan apresiasi untuk usahanya.

3. ‘Jawabannya mana?’

Ada dua tipe kesalahan. Yang pertama, memang nggak tersedia jawaban yang paling tepat dalam pilihan. Biasa lah, namanya ujian, pasti ada aja yang seperti ini. Dari kelalaian pembuat soal, atau memang disengaja untuk poin tambahan, karena biasanya akan dibenarkan.

Tapi di kasus kedua, secara harfiah nggak muncul pilihan jawabannya. Hanya muncul pertanyaan, lalu hanya halaman putih kosong di bawahnya. Pertanyaan mudah pun jadi mustahil untuk dijawab.

4. Pembagian sesi

Ujian berbasis komputer dapat dibagi dalam tiga sesi jika komputer tidak mencukupi untuk satu atau dua sesi saja. Banyak keluhanku dan teman-teman tentang sesi yang nggak sesuai dengan keinginan. Tapi setelah dipikir-pikir, memang nggak ada sesi yang paling cocok untuk mengerjakan ujian.

Emang sih, sesi tiga harus berjuang dengan kantuk, harus datang di tengah kemacetan istirahat kantor, dan harus-harus lainnya. Tapi yang ikut sesi ketiga bisa bermain terlebih dahulu, bisa mengulang materi di pagi hari, bisa makan siang terlebih dahulu, dan bisa-bisa lainnya yang menguntungkan. Bagaimana dengan sesi pertama? Sama dengan sesi kedua maupun ketiga, ada harus, dan ada bisanya sendiri-sendiri.

Manusiawi untuk lebih melihat ke keharusan dan memang memberatkan, tapi namanya ujian, semua harus dilalui.

Kok jadi bijak begini ya? Udah, ah.

Sebenarnya masih ada beberapa kesalahan kecil lain, yang terlalu kecil untuk dibahas. Salah satunya ialah pertanyaan dengan penulisan salah. Daripada kepanjangan, aku akhiri saja post ini. Sekali lagi, ini hanya dari pandanganku sendiri saja, sehingga bisa jadi berbeda dengan yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.