0

UTS Paling Fail!

Mungkin kalian tahu kalau minggu lalu dan dua minggu yang lalu nggak ada postingan baru di blog ini. Namun nggak seperti biasanya dimana nggak ada alasan sama sekali, kali ini ada alasan yang jelas. Jauh lebih jelas dari jawaban pertanyaan “Mengapa baju karakter pada kartun hampir selalu sama?”

Alasan tersebut yaitu sesuatu yang memiliki inisial UTS. Ujian Tengah Semester. Yak, kegiatan satu ini menghalangiku untuk bisa update blog. Akibat UTS yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga, rencana satu minggu satu post pun gagal dengan mudahnya.

Karena UTS semester ini telah selesai (yaas!). Dan karena feel UTS masih tersisa, maka kali ini aku akan membahas hal-hal seputar UTS semester ini.

UTS semester ini berjalan dengan normal dari awal, masih tetap mewarnai hari-hari selama UTS dengan tugas-tugas yang harus dikerjakan dan pelajaran yang harus dimengerti, atau paling nggak dihafal.

Namun hanya satu yang membedakan UTS kali ini dengan sebelumnya, yaitu tipe soal. Yang biasanya hanya 50 soal pilihan ganda, menjadi 35 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian. Tentu saja hal ini menguras energi tambahan saat belajar.

Itu ngeselin, tapi yang akan aku bahas hari ini mencakup salah satu pelajaran dalam pelaksanaan UTS kemarin yang super fail, yang beda dari yang lain, yang baru pertama kali aku alami dalam sejarah per-ujian-an-ku. Susah banget yah kata-katanya. Daripada lama, di-iya-in aja dah.

Tepat satu minggu yang lalu, hari Senin, merupakan jadwal UTS elektronika dan bahasa daerah. Keduanya merupakan pelajaran yang cukup mudah tetapi membutuhkan waktu yang banyak untuk bisa memahami semua bahan.

Aku sendiri optimis bisa mengerjakan semua soal yang diberikan dan mendapat nilai bagus, karena telah belajar dari hari sebelumnya dan paginya. Namun ternyata, soal berkata lain.

Setelah lembar jawab komputer dibagikan, dan saat soal elektronika dibagikan, perubahan terjadi. Dari yang optimis menjadi pesimis, dari perkataan “Ah, pasti gampang!” menjadi “Soal macam apa ini!”

Ternyata bukan hanya aku yang merasakan hal yang sama. Ketika aku melihat sekeliling kelas, semuanya melihat lembar soal dengan tatapan kosong dan melongo. Bahkan ada yang sambil menggeleng-gelengkan kepala dan membolak-balik lembar soal dengan beberapa kata makian.

Aku mencoba untuk mengerjakan soal yang diberikan satu per satu dengan segala materi yang sudah dipelajari. Masih sambil bergumam pelan, “Soal apa ini? Soal apa ini? Soal apa ini?”

Secercah harapan muncul ketika aku melihat beberapa soal yang menanyakan simbol dari komponen elektronika. Meskipun ada yang kurang yakin, tapi aku masih bisa mengerjakan semuanya. Lima menit berlalu, beberapa teman sudah mulai mencoba mengerjakan, beberapa juga masih ada yang kebingungan. Di tengah-tengah keheningan kelas, salah seorang teman yang duduk dekatku mengacungkan tangan dan berkata, “Bu, ini bukannya soal kelas 7?”

Gedubrak.

Yaelah, pantesan kok nggak ada materi yang diajarkan di kelas delapan dan jadi bahan ujian.

Seisi kelas yang mendengar perkataan itu langsung ikut berbicara dan mengeluh. Keheningan berubah menjadi keramaian dengan sekejap. Setelah beberapa detik keributan, pengawas menenangkan kami dan berkata bahwa ia akan turun dan mengecek di bawah, serta sementara itu kami diminta mengerjakan sebisanya.

Niatku awalnya sih mau lanjut kerja, tapi karena situasi kelas nggak mendukung, malah nggak bisa konsentrasi. Daripada kerja keras tanpa hasil, aku berhenti dan bertanya-tanya bagaimana soalnya bisa tertukar dengan kelas tujuh. Saat itu juga aku menemukan bahwa di halaman pertama juga tertulis “Kelas : VIII (8)”. Aneh memang.

Beberapa saat kemudian, guru pengawas kembali, mengklarifikasi, dan mengambil lembar soal kelas tujuh dari tangan kami. Tak lama, kami juga diberi arahan untuk mengerjakan soal bahasa daerah dahulu lewat speaker radio sekolah (sentral).

Soal dan pengerjaan UTS bahasa daerah tidak ada masalah buatku, dan buat semua murid. UTS bahasa daerah dinyatakan LANCAR.

60 menit kemudian, setelah lembar jawaban bahasa daerah dikumpulkan, UTS elektronika dilaksanakan ulang. Soal elektronika yang lama telah diambil oleh guru lain dan ditukar dengan soal yang baru. Semua berharap tidak ada masalah lagi kali ini.

Lembar soal dibagikan dan semua serentak berkata setengah teriak, “Nah, ini baru!” Fiuh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *